Selasa, 20 September 2022

Tugu Ngejaman: Sign of Power and Reminder of Time in Yogyakarta

 Abstract

Tugu Ngejaman or Stadsklok is a monument to commemorate a century of the return of Java to the Dutch colonial rule in 1916. This story begins with the French conquest of the Netherlands in January 1795 which led to the conquest of Java in 1808-1811. But France finally lost the war against Russia in 1814, so the Netherlands negotiated with Britain over its colonies. The British and the Dutch managed to reach an agreement to cede Java to the Dutch, while the British took control of Malacca in 1816. In this paper, I trace the history of the establishment of the Ngejaman monument, the meaning of the Ngejaman monument for the Dutch population in Yogyakarta, and the reasons for maintaining the Ngejaman monument today. I use Walter Benjamin's perspective on aura to explore the relationship between monuments and history and the technological revolution. The data in this paper comes from archival documents and existing scholarly literature, interviews, as well as field observations that elucidate the Ngejaman monument and the activities of the surrounding community. This study finds that the construction of the Ngejaman monument was related to the markers of Dutch colonial power in Yogyakarta and the "revolution of time" in the modern society. However, the Yogyakarta City Government maintains the Ngejaman monument without providing a narrative about the history of the monument's establishment in Malioboro. The government ignores historical literacy in tourism development in the Special Region of Yogyakarta, even when the importance of preserving the Ngejaman monument lies in its being a marker of the introduction of time as a regulator of modern human activity in Yogyakarta and a reminder that liberation has not necessarily meant freedom for all.

Keywords: Ngejaman monument; Malioboro; time; power; Dutch colonialism; Yogyakarta

Silahkan baca lebih lanjut di tautan berikut https://e-journal.usd.ac.id/index.php/Retorik/article/view/4850




Rabu, 14 September 2022

Eksistensi dan Problematika Agama Kaharingan di Kalimantan

Abstract

Kaharingan is a local religion embraced by the Dayak tribe on the island of Borneo. This belief is believed to have existed before major religions such as Hinduism, Buddhism, or Islam appeared in the Nusantara. Structurally, in 1980 the Indonesian government included Kaharingan as part of Hinduism. In fact, there are many differences between teaching and worship. This was done so that the Dayak tribe could have easy access to the state's civil registration, considering that at that time President Suharto only recognized five official religions. This research uses a literature review method, including reviewing sources from books, news portals, and state legislation texts. The results of this study indicate that the Kaharingan religion has become a deep-rooted identity for the Dayak Tribe. Therefore, their entry into the Hindu religious group certainly creates many problems, both internally and externally. On the other hand, at the organizational level of the Hindu association itself, followers of the Kaharingan religion tend not to get a place. Important positions in Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) are dominated by Balinese Hindus. Moreover, now the state has officially recognized that local religious adherents are allowed to register their beliefs in state civil documents. As a result, in 2018, the Kaharingan Religious Council complained to Komnas HAM to fight for it to become an autonomous religion separate from Hinduism.

Silahkan baca lebih lanjut dalam jurnal Religi: Jurnal Studi Agama-Agama di tautan https://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/Religi/article/view/1702-06

Selasa, 06 September 2022

Spivak dan Suara Subaltern

Gayatri Chakravorty Spivak (Sumber: Wikiwand.com)
 

Beberapa bulan yang lalu, masyarakat Indonesia digegerkan dengan kasus kekerasan seksual di institusi pendidikan keagamaan. Banyak orang marah dengan peristiwa tersebut dan menuntut keadilan bagi korban. Lalu muncul kasus baru dari pemimpin agama terhadap jemaatnya. Respon kemarahan juga muncul dari banyak pihak.

Pertanyaannya ialah mengapa kasus kekerasan seksual terus terjadi? Dari beberapa kajian mengenai kekerasan terhadap perempuan, tidak banyak yang memfokuskan diri pada pengabaian teori progresif terhadap suara perempuan. Salah satu pemikir perempuan yang cukup keras mengkritik teori-teori progresif ialah Gayatri Chakravorty Spivak yang lahir di Kalkuta, India pada 24 Februari 1942.

Ia mempelajari teori secara komparatif, dan menjadi seorang kritikus feminis yang menaruh perhatian pada perempuan dan subaltern (penduduk asli dan individu tertindas). Ia mengkritik para pemikir Barat yang berhasil merumuskan konsep emansipasi kelas tertindas tetapi abai pada suara perempuan subaltern dalam karya ilmiah mereka. Esai Spivak yang cukup keras mengkritik para pemikir Barat berjudul “Can the Subaltern Speak?” yang terbit pertama kali tahun 1988. 

 

Pengabaian Marxisme terhadap Subaltern

Spivak memulai tulisannya dengan bercerita tentang Rani Gulari yang bergabung dalam gerakan anti-kolonial di India. Gulari hanya dipanggil bila diperlukan sebagai agen/saksi/alat anti-kolonialisme. Spivak menulis “the woman in this section tried to be decisive in extremis, yet lost herself in the undecidable womanspace of justice. She ‘spoke’, but women did not, do not, ‘hear’ her” (Spivak, 2010: 22). Ia melihat ada kejanggalan, karena perempuan tertindas tidak memiliki ruang untuk berbicara. Bila mereka bicara, maka tidak ada orang yang mendengarkan mereka, termasuk sesama perempuan.

Spivak dalam The Rani of Sirmur: an Essay in Reading the Archives (1985) mengutip Dominick LaCapra yang menulis “urges the intellectual historian to learn of developments in ... literary criticism and philosophy” (Spivak 1985: 249). Ia mendesak kaum intelektual untuk mempelajari perkembangan pengetahuan di dalam kritik sastra dan filsafat untuk menguraikan subaltern dan memberikan tempat bagi mereka.

Filsafat Barat yang menginspirasi gerakan sosial seperti Marxisme tidak memberi tempat bagi subaltern. Karl Marx dalam Surveys from Exile menjelaskan keluarga yang hidup dalam kondisi ekonomi tertindas membentuk kelas. “In so far as millions of families live under economic conditions of existence that cut off their mode of life, their interest, and their formation from those of the other classes and place them in inimical confrontation [feindlich gegenüberstellen], they form a class” (Marx, 1973: 239). 

Spivak mengkritik subjek dalam Marxis yang terisolasi di dalam kelas. Ia memandang Marx tidak bekerja untuk menciptakan sesuatu di dalam kelas tertindas. Padahal dalam keluarga tidak semua orang didengar suaranya, terlebih kaum perempuan. Bagi Spivak, “Marx is obliged to construct models of a divided and dislocated subject whose parts are not continuous or coherent with each other” (Spivak, 2010: 29).

Spivak juga mengkritik Antonio Gramsci, seorang Marxisme Italia yang menaruh perhatian pada peran intelektual dalam gerakan budaya dan politik subaltern ke dalam teori hegemoni. Gramsci dalam The Southern Question membahas tentang subordinasi Italia selatan dari wilayah utara secara politik, ekonomi dan budaya. Ia berpendapat perlu adanya transformasi politik untuk mereformasi ketidaksetaraan sosial dan ekonomi (Geuss and Skinner, 1994: xi-xii). Tetapi Gramsci menempatkan kelas pekerja sebagai pemimpin dalam proses transformasi masyarakat (Jones, 2006: 45). 

Bagi Spivak, penjelasan subaltern Gramsci terlempar keluar bersama penjelasannya mengenai budaya selatan Italia, karena keinginannya membahas persoalan makro yang dihadapi masyarakat Italia di bawah Fasisme Mussolini. Gramsci tidak lagi memfokuskan kajiannya pada subaltern, tetapi berfokus ke proses transformasi masyarakat yang diletakkan pada pundak kelas pekerja.

Spivak mengamati kritik paling radikal terhadap cara berpikir esensialisme subjek datang dari Barat mulai tahun 1980-an. Tetapi Spivak melihat berkembangnya teori Barat merupakan hasil dari keinginan mereka untuk melestarikan subjek Barat, atau Barat sebagai subjek. Menurut Spivak, dalam sejarah Eropa, subjek dinarasikan dalam hukum, ekonomi politik, dan ideologi, tetapi telah menentukan geopolitik dan pengetahuan (Spivak, 2010: 22-23). Barat tetap menjadi sentral pengetahuan. 

Derrida menyebut Eropa sentris ilmu pengetahuan sebagai gejala krisis kesadaran Eropa akhir abad ke-17 sampai abad ke-18 (Derrida, 1998: 75). Hal ini dikarenakan pengetahuan menyebabkan kuasa. “It is not possible for power to be exercised without knowledge, it is impossible for knowledge not to engender power” (Foucault, 1977: 52). Kritik terhadap esensialis subjek Barat tetap melahirkan kuasa Barat atas pengetahuan. 

 

Afirmasi Subjek Subaltern

Spivak kembali mengajukan pertanyaan ‘Can the Subaltern Speak?’. Menurut penulis, Spivak mengabaikan usaha filsuf post-Marxis, misalnya Ernesto Laclau yang mendekonstruksi subjek dalam Marxisme klasik. Bagi Laclau, subjek (S dengan huruf kapital) telah mati bersamaan dengan lahirnya gerakan sosial baru yang mulai muncul tahun 1960-an. Matinya subjek absolut telah melahirkan multiplisitas identitas politik dalam gerakan sosial (Laclau, 2007: 20-21). 

Gagasan Laclau memberikan pengakuan dan tempat kepada subaltern dalam diskursus gerakan sosial. Tetapi Spivak mengkritiknya sebagai Eropa sentris, walaupun sebenarnya Laclau berasal dari Argentina dan secara intelektual berkarya di Eropa.

Ia mencoba berpaling ke teks-teks Timur untuk menemukan pengakuan bagi subaltern. Ia menemukan praktik dan teks yang melarang perempuan untuk mempersembahkan dirinya [in the name of “God”] bersama kematian suaminya di India. 

Namun Spivak melihat penghapusan ritus pengorbanan perempuan (sati) oleh kolonial Inggris sebagai “white men saving brown women from brown men” (Spivak, 2010: 50). Ia melihat ada kecenderungan masyarakat menggiring perempuan sebagai objek perlindungan masyarakat. Bagi Spivak, hal tersebut merupakan strategi masyarakat untuk tetap mengukuhkan patriarki di dalam kehidupan sosial.

Ia berpandangan bahwa pengakuan akan identitas perempuan dalam perjalanannya penuh dengan kekerasan, dan figur ‘perempuan dunia ketiga’ yang terperangkap di antara tradisi dan modernitas, antara kulturalisme dan pembangunan (Spivak, 2010: 61). 

Spivak menghubungkan refleksinya dengan “Can the Subaltern Vote?” dan “Silencing Sycorax”. Can the Subaltern Vote? membahas tentang posisi subaltern yang digeneralisasi dalam pemilihan umum di Nicaragua tahun 1990 (Medovoi, Raman and Robinson, 1990: 141). Sedangkan dalam Silencing Sycorax, perempuan subaltern lebih berdaya dengan membangun pemahaman diri dan memiliki pilihan atas apa yang ingin ia gunakan. “We have many modes of (re)dress” (Busia, 1990: 104).

Esai Can the Subaltern Speak? merupakan kritik terhadap pemikiran pasca-kolonial yang masih membawa residu kolonial. Para pemikir Barat telah begitu lama mengabaikan subaltern sebagai subjek politik otonom. Kalaupun kisah hidup dan perjuangan mereka ditulis, maka mereka tetap dibingkai dalam upaya mengukuhkan budaya partriarki. Spivak dalam wawancara dengan Mark Sanders tahun 2005 menjelaskan Can the Subaltern Speak? membahas perempuan dan subaltern dari semua ras tentang bagaimana kehidupan seorang harus dijalani (Sanders, 2006: 106). 

Ia mengajak semua orang untuk mendengarkan suara mereka, bukan melalui perantaraan orang lain. Hal ini juga menjadi refleksi bagi penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan. Perempuanlah yang didengar suaranya, bukan suara-suara di sekitarnya. 

 

Penutup

Can the Subaltern Speak? merupakan esai yang ditulis dari perjalanan aktivisme dan intelektual Spivak di India. Ia melihat bagaimana perempuan tidak punya pilihan atas hidupnya. Bila perempuan subaltern berbicara, tidak semua orang mau mendengarnya, termasuk para perempuan sendiri. Ia memandang problem tersebut perlu diuraikan dan menjadi perhatian kaum intelektual.

Ia mendalami filsafat Barat yang menginspirasi gerakan sosial dan transformasi masyarakat. Tetapi Marxisme ortodoks menempatkan semua keluarga yang tertindas ke dalam kelas. Marx tidak bekerja menjelaskan relasi sosial di dalam kelas tertindas. Sedangkan Gramsci sebagai pencetus istilah subaltern tidak cukup memberikan perhatian pada keadaan sosial subaltern. Walaupun pengakuan terhadap pluralitas identitas subaltern muncul dari para pemikir pascastrukturalis, tetapi Spivak berpandangan bahwa usaha mereka tetap menjadikan Barat sebagai sentral pengetahuan.

Ia berpaling ke teks Timur untuk mencari pengakuan pada subaltern. Tetapi teks Timur telah diinterpretasi dan didominasi Barat. Ia berpendapat bahwa pengakuan terhadap subaltern dipenuhi dengan narasi kekerasan dan pengabaian. Mereka telah terlalu lama terjebak dalam kungkungan tradisi dan modernitas yang membuat mereka tidak memiliki otonomi atas hidupnya. Sudah saatnya mendengarkan suara mereka, dan menghormati pilihan mereka, apalagi di dalam kasus kekerasan terhadap perempuan.

 

Kepustakaan

Busia, Abena P.A. 1990. “Silencing Sycorax: On African Colonial Discourse and the Unvoiced Female”. Cultural Critique. No. 14, pp. 81-104.

Derrida, Jacques. 1998. Of Grammatology. (Translated by Gayatri Chakravorty Spivak). Baltimore & London: The Johns Hopkins University Press.

Foucault, Michel. 1977. Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings 1972-1977. (Translated by Colin Gordon, Leo Marshall John Mepham, Kate Soper). New York: Pantheon Books.

Gramsci, Antonio. 1994. Pre-Prison Writings. (Editors by Raymond Geuss and Quentin Skinner). London: Cambridge University Press.

Jones, Steve. 2006. Antonio Gramsci. London & New York: Routledge.

Laclau, Ernesto. 2007. Emancipation (s). London & New York: Verso.

Marx, Karl. 1973. Surveys from Exile. (Introduction by David Fernbach). London: Penguin Books with New Left Review.

Medovoi, Leerom., Shankar Raman and Benjamin Robinson. 1990. “Can the Subaltern Vote?”. Socialist Review, 20(3), pp. 134-149.

Riach, Graham. 2017. An Analysis of Gayatri Chakravorty Spivak’s Can the Subaltern Speak?. London & New York: Routledge.

Sanders, Mark. 2006. Gayatri Chakravorty Spivak: Live Theory. New York: Continuum.

Spivak, Gayatri Chakravorty. 1985. “The Rani of Sirmur: An Essay in Reading the Archives”. History and Theory, 24(3), pp. 247-272.

_____. 2010. “Can the Subaltern Speak?” in Reflection on the History of an Idea: Can the Subaltern Speak? (Edited by Rosalind C. Morris). New York: Colombia University Press.

Senin, 02 Juli 2018

Kisahku di Sungai Utik

                                              (berdiri di piggir papan penunjuk arah Sui Utik)

Pada suatu kesempatan yang baik ditanggal 18 Juni sampai 5 Juli 2018 diriku berkunjung ke Sungai  (Sui) Utik yang terletak di jalur lintas Putussibau menuju Badau, wilayah yang berbatasan langsung dengan Lubok Antu, Malaysia. Capeknya perjalanan yang memakan waktu 18 jam dari Kota Pontianak ke Kapuas Hulu dan 1 jam 40 menit dari Putussibau ke Sui Utik terbayar saat memasuki kampung Sungai Utik. Ya, capek itu terbayar karena untuk pertama kalinya diriku melihat rumah betang yang masih dihuni oleh masyarakat. Belum lagi mereka masih memegang teguh budaya dan kesenian tato yang menghiasi sekujur tubuhnya.

Di tangga rumah betang diriku dibuat kagum dengan panjang dan keaslian arsitekturnya. Rumah betang tersebut sepanjang 214 meter dengan 28 bilik yang sudah dilindungi oleh Dinas Cagar Budaya Kabupaten Kapuas Hulu pada tahun 1998. Setelah naik ke rumah betang diriku diajak Herkulanus Edmundus menyalami warga yang ada di ruai. Salah satu warga yang aku salami ialah Apai Janggut yang terlahir dengan nama Bandi dari ayah bernama Ragai dan ibu bernama Lendak.


                                                 (bersama Apai Janggut ditepian Sungai Utik)

Beliau adalah tuai rumah Sungai Utik yang menjabat setelah ayahnya meninggal tahun 1982. Dikepemimpinan ayah dan dirinya, Sungai Utik berhasil menjaga wilayah seluas 9.453.53 Ha dari rakusnya perusahaan kayu (illegal logging) dan perusahaan sawit.

Lalu diriku bertanya apa yang membuat mereka tidak menjual hutannya padahal kampung-kampung di sekitar Sungai Utik menikmati hasil kayu yang terjual ke perusahaan berupa perbaikan fasilitas kampung dan dialiri listrik? Lalu aku menemukan jawabannya dari pengajaran yang aku terima bersama Apai Janggut. Beliau menyebutkan bahwa “bumi adalah ibu kita, dari bumi semuanya ada dan kehidupan tercukupi”. Ya, filosofi kehidupan masyarakat Dayak Iban telah menuntun mereka untuk selalu menjaga bumi.

Kebijaksanaan lokal ini membuat masyarakat Sungai Utik berhasil menjaga salah satu paru-paru dunia. Aktivitas harian warga Sungai Utik berladang. Ladang bergilir adalah pencaharian utama warganya. Tentu tidak semua hutan boleh dijadikan ladang karena ada hutan yang harus tetap utuh yang disebut rimba, ada hutan tembawang dan hutan tengkawang. Maka tidak relevan tuduhan bahwa masyarakat peladang sebagai penyebab kebakaran hutan karena mereka punya kebijaksanaan dalam berladang dan tidak sembarangan. “Tanpa ladang, adat istiadat masyarakat Dayak kami (Iban) akan musnah” ucap Maryetha Samay.

Pulang dari ladang, masyarakat mandi di sungai Utik yang mengalir dari Bukit Tugu Jawa ke sungai Cemaru lalu bermuara di sungai Kapuas. Air sungainya masih jernih dan ikannya masih banyak karena masyarakat hanya boleh mengambil secukupnya untuk dimakan. Selesai mandi warga bisa mengkonsumsi air minum yang dialirkan dari sungai Nangsang. Proses pengambilan airnya menggunakan bendungan (2011) lalu dialirkan melalui pipa ke bilik-bilik warga.

                                                            (anyaman tas dari rotan)

Begitu damai dan harmoninya warga Sungai Utik dengan alam membuat betang, hutan dan budaya terpelihara. Bentuk penjalanan terhadap budaya juga dipraktekkan dalam kesenian dan anyaman. Kesenian tato dengan berbagai motif seperti bunga tengkawang, bunga terong, bilon betis, swet, ketam, itik, ketam cukong, kelingai, telingai paha, buah andu, ukir deguk dan tegulun. Sedangkan anyaman seperti tas, tikar dan keranjang. Selain itu masih ada tenun dengan berbagai jenis seperti tenun kebat, tenun pileh amat, tenun pileh slam, tenun sumpit, tenun sidan dan tenun subak. Semua kesenian dan anyaman menggambarkan relasi antara manusia, alam dan orang pangau/khayangan yang harmonis.

Beberapa hari di Sungai Utik diriku diajak Apai Janggut tracking ke hutan. Perjalanannya ditemani oleh salah satu fasilitator desa PT. Hatfild Indonesia dan kunyuk yang memakan waktu 4 jam. Di perjalanan diriku melihat berbagai jenis pohon. Pohon-pohon tersebut merupakan pohon khas hutan tropis Indonesia. Maka tidak pas rasanya kalau tidak berfoto ria sambil melepas penatnya perjalanan. Di hutan Apai Janggut banyak memberi pelajaran kepada kami mengenai tanaman yang bisa dijadikan obat maupun pribahasa-pribahasa kehidupan. Wajahnya yang selalu ceria membuat dirinya kelihatan tidak lelah walaupun sudah berumur 80an tahun. Tentu berbeda dengan kami yang masih muda dan sok kekotaan, baru jalan beberapa kilo meter sudah kecapean, heheheeee.

                                                           (beraninya memeluk pohon kayu aja)

Perjalanan kami menikmati hutan berakhir di pontok ngetu yang dibangun oleh warga di tepian sungai Utik. Wah, makan sambil menghadap ke sungai yang ditemani dengan gemericik suara air membuat perbekalan ludes dilahap. Maklum perjalanan jauh juga membuat perut terasa laper dan haus. Niat mau mandi pun diurungkan karena tidak membawa pakaian ganti. Taukan kalau semuanya basah, pasti lecet tuh selangkangannya. Jadi nggak enak dibawa jalan. Keinginan mandi di sungai Utik aku tuntaskan setelah pulang dari pondok ngetu.

Di betang, aku melihat masyarakat melakukan ritual adat di salib pertanian, menerima tamu dan “ngansur keduran, pansut ke tanjok sama bedarak jari”. Sungguh ini pengalaman yang luar biasa. Warga Sui Utik juga ramah. Apalagi kalau mereka tahu kita dari kultur yang sama, Dayak, wah pasti diajak “rapat”. Rapat adalah istilah untuk bersosialisasi di dapur sambil minum tuak/bram sebagai obat lelah dan penyegar bercerita. Ceritanya apa saja boleh asal tahu tata krama dan sopan santun. Kalau tidak bisa kena adat salah basa lho. Tapi mereka sangat ramah, bahkan anak-anak juga ramah sama tamu yang mau main sama mereka. Contohnya aku ini yang sering diajak anak-anak bermain.

                                                  (bersama generasi masa depan Sui Utik)

Di bulan Juni masyarakat Iban mengadakan gawa’ atau acara pesta syukur ke petara karena memberkati bumi dan membuat hasil panen berlimpah. Acara gawai yang paling seru ketika ngetas pintu (gedor pintu). Acara ngetas pintu dilakukan setelah penyambutan tamu di betang bagian hilir lalu menuju ke ruai tuai rumah. Setelah acara di ruai tuai rumah para anak muda dipimpin oleh satu orang yang menggunakan pakaian adat dengan mandau di pinggangnya mengetas pintu (mengedor pintu) bilik rumah betang dari bilik hilir ke hulu. Di depan pintu bilik yang digedor para pengetas pintu dikasi tuak masing-masing setengah gelas. Kebayangkan kalau jumlah biliknya lebih dari 20 dan ditambah rumah pisah? Pasti teleeerrr....


                                                      (bersama Herkulanus Edmundus angkat gelas)

Pengalaman dan kebersamaan di Sungai Utik memang tidak pernah terlupakan. Pengalaman semuanya, baik bersama warga dan anak-anak, jalan ke hutan, belajar kebijaksanaan lokalnya, menghadiri ritual adat sampai “rapat” dan ikut gawainya. Heheeeeee...

Semoga aku bisa ke Utik lagi.


Jumat, 03 November 2017

Dayak Jawatn


Suku Dayak adalah sebuah entitas masyarakat yang mendiami Pulau Kalimantan. Dari sekian banyak entitas masyarakat Dayak yang ada, terdapat satu kelompok masyarakat yang disebut masyarakat Dayak Jawatn. Namun sebelum membahas mengenai masyarakat Dayak Jawatn, penulis akan terlebih dahulu membahas sedikit menganai penyebutan nama pulau yang didiami oleh masyarakat, karena ada beberapa nama yang digunakan untuk menyebut pulau tersebut. Selain itu, penulis juga akan sedikit membahas mengenai penyebutan kata “Dayak” yang digunakan untuk menamai sebuah entitas masyarakat yang mendiami Pulau Kalimantan.
                                             (Kampung desa Boti dalam maps)

Borneo atau Kalimantan?
Ada beberapa penamaan yang digunakan untuk menyebut sebuah pulau nomor dua (luasnya 746.305 km sedangkan Papua 808.510 km)[1] terbesar di Indonesia. Ada yang menyebutnya Borneo, Kalimantan, Tanjung Nagara, Pulau Hujung Tanah dan Pulau Bagawan Bawi Lawu Telo atau Negeri Tempat Tiga Putri.
Penyebutan nama “Borneo” dipelopori oleh bangsa kolonial yang menjelajahi daerah tersebut. Penggunaan nama Borneo pada waktu itu merujuk pada kerajaan Bruni atau sekarang disebut Brunei. Sedangkan nama Bruni sendiri mungkin berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti “Tanah” atau “Daerah”. Nama Brunilah yang menjadi cikal bakal penyebutan nama Borneo untuk seluruh Pulau Kalimantan. Agar tidak rancu dengan penyebutan kerajaan Bruni, maka kerajaan ini oleh Belanda diberi nama “Borneo Proper” atau “Borneo Asli”.[2]
Sedangkan penduduk asli yang mendiami Pulau Kalimantan menyebut daerah mereka berdasarkan pada wilayah kerajaan. P.J. Veth[3] (1854) menulis bahwa penduduk Dayak dan Melayu sudah menggunakan nama “Kalimantan” untuk menyebut wilayahnya. Namun pada waktu itu lebih dikenal penyebutan “Tanah Kalimantan”, bukan “Pulau Kalimantan” karena penduduk aslinya hanya mengenal wilayah tempat tinggal mereka. Mereka belum banyak mengetahui daerah yang mereka diami berbentuk pulau. Walaupun para penduduk di daerah pantai yang berprofesi sebagai nelayan dan pelaut sudah mengetahui bentuk wilayah mereka kepulauan.[4]
Sedangkan penyebutan Tanjung Negara berasal dari kerajaan Majapahit. Kalau penyebutan Pulau Hujung Tanah dan Begawan Bawi Lawu Telu atau Negeri Tempat Tiga Putri berasal dari catatan yang dibuat oleh Tjilik Riwut. Kalau ditanya penyebutan mana yang pas untuk Kalimantan, penulis lebih cenderung menggunakan pada Kalimantan karena warga lebih familiar dengan nama itu, sedangkan Borneo dibuat oleh bangsa kolonial.


Dayak
Sebelum membahas mengenai penggunaan kata “Dayak”[6] untuk menyebut penduduk lokal non-muslim yang mendiami Pulau Kalimantan, penulis akan menyajikan persoalan identifikasi etnis dalam studi etnografi. Rousseau (1990) dalam studinya menjelaskan bahwa sangat sulit mengidentifikasikan unit-unit etnis karena kelompok dengan nama yang sama bisa jadi bertutur dengan bahasa yang berbeda, sedangkan kelompok dengan nama yang berbeda tampak menjadi identik. Masyarakat menggunakan idiom kategori etnis untuk menjelaskan realitas-realitas politik. Viktor T. King[7] menjelaskan lebih terperinci gagasan Rousseau tersebut. Ia mencontohkan istilah “Dayak” yang awalnya berkonotasi buruk dan diperdebatkan namun digunakan untuk menyebut masyarakat di pedalaman dan di hulu sungai. Istilah tersebut malah diadopsi oleh para administrator kolonial Inggris dan Belanda untuk menyebut masyarakat di pedalaman Kalimantan.[8]
Studi etnografi nampaknya memang perlu didukung oleh disiplin ilmu antropologi, linguistik, arkeologi dan sosiologi agar dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif. Begitu juga dalam memahami Suku Dayak, tanpa adanya studi yang komprehensif sangat sulit mendapatkan penjelasan yang utuh. Seperti halnya perdebatan mengenai sebutan “Dayak” untuk penduduk asli non-muslim.
            Sebutan masyarakat pedalaman non-muslim yang mendiami wilayah Kalimantan ada beberapa yaitu Daya’, Daya, Dyak, Dadjak, Dayaker dan Dayak. Dari semua kata yang digunakan ada kesamaan dalam pengertian yang lebih umum yaitu untuk menyebut masyarakat asli non-muslim yang tinggal di daerah pegunungan, dataran tinggi dan di hulu-hulu sungai.[9] Tetapi ada sumber lain juga yang menyebutkan bahwa “Dayak” berasal dari dayaka (bahasa Kawi) yang berarti suka memberi. Pengertian ini mungkin didasarkan pada sifat orang Dayak yang suka memberi apa saja seperti, ayam, makanan, dan lain-lain kepada para pendatang. Sementara ada yang menyebutkan bahwa Dayak berasal dari istilah daya yang berarti kekuatan.[10]
Dari semua pengertian yang ada bisa ditarik kesimpulan umum bahwa penggunaan istilah Dayak adalah untuk menyebut kelompok masyarakat lokal non-muslim yang mendiami Pulau Kalimantan. Mereka memiliki sifat yang suka memberi dan mempunyai kekuatan. Pada tahun 1992 pernah diadakan Expo Budaya Dayak di Pontianak untuk menyepakati kata “Dayak” sebagai kata yang digunakan dalam literatur resmi masyarakat Dayak supaya menghindari kerancuan istilah Daya’, Dyak, Daya dan Dayak untuk menyebut masyarakat lokal non-muslim di Kalimantan.[11]
                                    (Dok. Emilia: Pernikahan Emilia tahun 2002)

Dayak Jawatn
Dayak Jawatn[12] adalah satu dari 151 subsuku dan 168 bahasa yang ada di Kalimantan Barat.[13] Dayak Jawatn tersebar di sepanjangan aliran sungai Menterap daerah Kecamatan Sekadau Hulu, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Kalau merujuk pada catatan penelitian yang dilakukan oleh Dayakologi hingga tahun 2001, Dayak Jawatn tersebar di 13 kampung dengan jumlah penutur bahasa sekitar 5.997 jiwa.[14]
(Dok. Emilia: Pemuda Pemudi Dayak Jawatn tahun 2002) 
                     
Memang cukup sulit mengidentifikasi rumpun suku masyarakat Dayak Jawatn. Paling tidak ada 4 versi mengenai asal usul masyarakat Dayak Jawatn. Menurut sumber pertama, masyarakat Dayak Jawatn berasal dari kampung Boti atau juga sering disebut Jawatn Puunt (Jawatn tertua). Kampung Boti berdiri setelah perang Montok. Orang pertama yang mendiami kampung Boti adalah Sengantri. Beliau merimba (membuka lahan) lalu membuat ladang dan menanam pohon-pohon kemudian pindah ke tempat lain serta melakukan hal serupa. Beberapa barang-barang tua peninggalan adat masih tersimpan di Rumah Pasah di kampung Boti.[15]
Sumber kedua memberikan informasi bahwa Dayak Jawatn berasal dari Kapuas Hulu. Dalam suatu perjalanan, mereka tersesat karena menelusuri Sungai Menterap dan akhirnya memilih untuk mendiami daerah aliran Sungai Menterap.[16] Panglima yang memimpin mereka pada waktu itu adalah Manteare.[17] Maka tidak heran kalau ada anggapan bahwa masyarakat Dayak Jawatn yang mendiami daerah Sungai Menterap disebut Dayak Jawatn sesat (Dayak Jawatn yang tersesat dari rombongannya).
Sumber ketiga menuturkan bahwa Dayak Jawatn berasal dari Labe Lawe (Labai Lawai – daerah pinggir laut yang letaknya tidak jauh dari Ibukota Tayan saat ini). Mereka bisa masuk sungai Menterap dan menetap di beberapa kampung awal karena tersesat dari rombongan. Rombongan mereka dipimpin Singa Pati Bangi. Kalau merujuk pada tulisan Tomi (2014), Singa Pati Bangi adalah salah satu panglima Dama Bulan dari kerajaan Sangkra di daerah Thailand. Mereka masuk ke Kalimantan yang waktu itu bernama Tanjung Negara untuk mencari perlindungan di kerajaan Tanjung Negara karena dikejar-kejar pasukan Dama Bintang, kakak kandungnya. Dalam perjalanannya mencari kerajaan di Tanjung Negara, mereka menyusuri sungai kapuas. Tetapi rombongan yang dipimpin Singa Pati Bangi terhalang arus sungai yang kencang sehingga rombongannya tertinggal lalu masuk ke sungai Sekadau dan sungai Menterap. Pedang yang digunakan Singa Pati Bangi untuk memotong batang adau bernama pedang Sengkilang Patah Tiga yang masih tersimpan di Rumah Pasah. 
Sumber keempat memberikan informasi bahwa Dayak Jawatn masuk dalam rumpun Dayak Pantai.[18] Kelompok ini bermukim di daerah aliran sungai Kapuas, Sekadau, Benawas, Kerabat dan Menterap.[19] Dari keempat sumber yang didapat perlu ada studi lebih lanjut untuk mendapatkan informasi yang lengkap mengenai Dayak Jawatn. Memang ini adalah tugas bersama sebagai generasi muda Dayak Jawatn. Generasi mudanya perlu menggali sejarah asal usul dan kekayaan budaya sebagai identitas diri agar tidak hilang dimakan oleh zaman.
        Kalau penulis sendiri lebih yakin bahwa Dayak Jawatn berasal dari Labe Lawe lalu mereka menyusuri hulu sungai Kapuas yang dipimpin oleh Singa Pati Bangi lalu masuk ke sungai Menterap dan bermukin di situ. Ada beberapa alasan yang penulis yakini adalah (1). beberapa konsonan kata yang diucapkan oleh masyarakat Jawatn memiliki kemiripan dengan masyarakat Dayak Ribun/Hibun rumpun Bidayuhik yang sempat menetap di Labe Lawe. Konsonan itu misalnya menyebut garam sebagai "gaham", rokok sebagai "hokok", dll. Pengucapan huruf 'r'nya tidak terdengar jelas. (2). Masyarakat Dayak Jawatn sering disebut Jawatn sosat (atau tersesat dari rombongan), itu hanya mungkin kalau mereka tertahan air Kapuas ketika mudik ke hulu lalu tertinggal rombongan dan masuk sungai Menterap karena mereka mengira rombongan yang di depan masuk ke sungai tersebut.(3). Adanya penyebutan nama panglima Singa Pati Bangi yang memimpin rombongan ketika mudik ke hulu sungai Kapuas. Singa Pati Bangi adalah panglima Dama Bulan yang melindungnya dalam pelarian. Dalam usaha mencari perlindungan ke kerajaan di Tanjung Negara, mereka sempat bermukim di Labe Lawe lalu memutuskan untuk berangkat menyusuri hulu sungai Kapuas agar menemukan kerajaan yang dimaksud. Tetapi rombongan pimpinan Singa Pati Bangi tertahan arus sungai Kapuas dan masuk ke sungai Sekadau lalu ke sungai Menterap. Pedang yang digunakan Singa Pati Bangi untuk memotong pohon adau di muara sungai Sekadau masih tersimpan di Rumah Pasah kampung Boti. Hal ini sesuai dengan yang diceritakan oleh bapak Anong Yustinus dalam wawancaranya dengan penulis yang dimuat di Teroka Borneo dengan judul "Sejarah Dayak Jawatn Menurut Tetua Kampung Boti".
Saat ini masyarakat Dayak Jawatn mendiami beberapa kampung seperti di Boti, Roca, Sulang Botong, Mondi, Nate Kelampe, Tapang Birah, Gintong, Engkorong, Sungai Gontin, Bongkit, Sengiang, Ensibo, Kerentak, Jangkak, Gurong dan Bunut. Kampung-kampung tersebut berada di daerah Kecamatan Sekadau Hulu, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

Sumber:
Buku
Bamba, John (ed). Mozaik Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat. Pontianak: Institut Dayakologi, 2008.
Riwut, Tjilik. Kalimantan Memanggil. Djakarta: Endang, 1958.
Tomi. Pasak Negeri Kapuas 1616-1822. Jakarta: Felix Books, 2014.
Veth, P.J. Borneo’s Westerafdeeling Geographisch, Statistisch, Historisch. Jilid 1. terj. P. Yeri. Pontianak: Institut Dayakologi, 2012.
_______. Borneo’s Westerafdeeling Geographisch, Statistisch, Historisch. Jilid 2. terj. P. Yeri. Pontianak: Institut Dayakologi, 2012.
Victor T. King & William D. Wilder, The Modern Anthropology of South-East Asia, terj. Hatib Abdul Kadir, Jogjakarta: Kreasi Wacana, 2012.

Situs
https://heronimusheron.blogspot.co.id/2017/01/filosofipemuda-dayak-jawant-fotoini.html.
http://www.wikipedia.com.
http://terokaborneo.com/sejarah-dayak-jawatn-menurut-tetua-kampung-boti/







[1] Diambil dari situs http://www.wikipedia.com.
[2] P.J. Veth, Borneo’s Westerafdeeling Geographisch, Statistisch, Historisch, Jilid 1, terj. P. Yeri, Pontianak: Institut Dayakologi, 2012, hal. Ixii.
[3] P.J. Veth (1814-1895) adalah seorang profesor kebangsaan Belanda.  Cukup banyak tulisannya tentang Hindia Belanda. Namun ada kritikan juga untuk Veth karena beliau tidak pernah tinggal di Hindia Belanda. Kalau merujuk pengantar bukunya, dia membuat tulisan berangkat dari catatan para pegawai kolonial, para misionaris, para musafir, kawan-kawan para ilmuwan dan literatur yang ada di Universitas-universitas Belanda.
[4] Ibid.
[5] Ibid.
[6] Istilah “Dayak” pertama kali ditemukan dalam literatur pada tahun 1790 oleh Rademaker tahun 1780.
[7] Viktor T. King lahir tahun 26 Januari 1949 di Nortolk, Britania Raya. Beliau adalah seorang profesor Etnologi dari United Kingdom Inggris yang banyak mempelajari perkembangan manusia di Asia Tenggara.
[8] Victor T. King & William D. Wilder, The Modern Anthropology of South-East Asia, terj. Hatib Abdul Kadir, Jogjakarta: Kreasi Wacana, 2012, hal. 335-336.
[9] John Bamba (ed), Mozaik Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat, Pontianak: Institut Dayakologi, 2008, hal. 9.
[10] Ibid., hal. 11.
[11] Ibid., hal. 10.
[12] Dayakologi menulis kata “Jawatn”.
[13] John Bamba (ed), Op Cit., hal. 24.
[14] Ibid., hal. 147. Sebaran masyarakat Dayak Jawant lebih dari 13 kampung. Laporan dari Dayakologi perlu dicek lagi. Di bagian akhir akan penulis sebutkan nama kampung-kampung yang didiami oleh masyarakat Dayak Jawant. Termasuk jumlah jiwa karena penelitiannya karena penelitian itu dilakukan pada tahun 2001.
[18] Istilah Dayak Pantai digunakan oleh Dayakologi untuk menyebut beberapa rumpun subsuku Dayak yang ada di daerah Kabupaten Sekadau karena adanya kedekatan penuturan dengan bahasa etnis Melayu.
[19] John Bamba (ed), Op.Cit., hal. 50-51.


Kamis, 26 Oktober 2017

Perjalanan Masyarakat Dayak Melintasi Zaman

Fondasi sebuah peradaban berangkat dari peristiwa, konsensus, komitmen dan impian dari masyarakat di masa yang lalu dalam mengkonstruksi peradaban di hari esok. Peristiwa, konsensus, komitmen dan impian masyarakat yang telah melintasi ruang dan waktu perlu dikristalisasikan dalam tulisan. Tentu catatan ini sangat singkat (seperti sebuah kronik) karena hanya mencantumkan peristiwa dan hasil dari sebuah kesepakatan masyarakat Dayak tanpa mengulas sejarah serta latar belakangnya. Beberapa peristiwa memang sudah diulas oleh beberapa tokoh dan aktor yang terlibat tetapi yang lain perlu ada pendalaman lebih lanjut. Tulisan ini bukan untuk mengorek peristiwa lama tetapi agar bisa belajar dari setiap peristiwa demi tercapainya keharmonisan hidup sebagai manusia.
Masyarakat yang mendiami pulau Kalimantan adalah golongan Polinesia (campuran budaya Austronesia dan Austroasiatik) yang diperkirakan tahun 3000 SM (Heine-Galdern, 1928). Pada abad ke-4, mereka sudah bersentuhan dengan agama Hindu dan Buddha. Pada abad ke-5 M kebudayaan Tiongkok (Dinasti Liang) sudah berkontak dengan penduduk di Kalimantan. Agama Islam masuk sekitar abad ke-16, sedangkan Katolik sekitar abad ke-17 dan agama Kristen sekitar abad 19.

Kolonialisme  
Pada abad ke-16, Spanyol sempat singgah di Kalimantan bagian utara namun kemudian hari mereka berlayar mencari sumber rempah-rempah ke Pulau Maluku. Sekitar abad ke-17 Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) masuk dan berdagang di Kalimantan. Tetapi dibagian utara pulau dikuasai Inggris pada abad ke-19. Sedangkan pada tahun 1941-1945, Kalimantan pernah dikuasai Jepang, namun karena kalah dalam perang dunia II maka para founding people mendeklarasikan kemerdekaan pada tahun 1945.

Penamaan pulau Kalimantan
Pulau Kalimantan mendapat beberapa penyebutan yang berangkat dari legenda dan bangsa yang menjajahinya. Masyarakat setempat menyebutnya Tanah Kalimantan, Majapahit menyebutnya Tanjung Negara, bangsa kolonial menyebutnya Borneo, Pulau Hujung Tanah kalau dalam hikayat Lambung Mangkurat dan Pulau Bagawan Bawi Lawu Telo atau negeri tempat tiga putri kalau dalam Tjilik Riwut. Namun penyebutan yang populer adalah Pulau Kalimantan dan Pulau Borneo.

Penyebutan Dayak
Penyebutan Dayak pertama kali ditemukan dalam literatur pada tahun 1970 oleh Rademaker (Institut Dayakologi, 2008), namun penggunaannya masih belum menunjukkan pada semua masyarakat penduduk asli non melayu di Kalimantan karena di Malaysia lebih dikenal Puak seperti Puak Murut, Puak Desa atau Suku Iban. Selain itu masih bertebaran kata dalam penulisan dan penyebutan penduduk asli yang mendiami pulau Kalimantan seperti adalah Daya’, Daya, Dyak, Dadjak, Dayaker dan Dayak. Maka melalui ekspo budaya Dayak di Pontianak pada tahun 1992 diputuskan menggunakan kata “Dayak” untuk menyebut penduduk asli yang mendiami pulau Kalimantan.

Batas teritori negara
Pulau Kalimantan akhirnya terbagi dalam tiga teritori negara seperti;
-          Tahun 1945, Kalimantan bagian Barat, Timur, Tengah dan Selatan karena dijajah Belanda maka masuk Indonesia. Pada tahun 2012 terbentuk Kalimantan Utara setelah pemekaran dari Kalimantan Timur.
-          Sabah dan Sarawak pada tahun 1963 bergabung dengan persekutuan Tanah Melayu lalu membentuk Malaysia.
-          Brunei Darussalam mendapat kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1984

Konflik dan kekerasan
-          Pada 1824 muncul kekerasan etnis antara Dayak dengan Tionghoa di Monterado. Yang mendapat keuntungan adalah Belanda karena tambang-tambang emas yang dulunya dikuasai orang Tionghoa dapat direbut.
-          Kekerasan terhadap Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS)/Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (PARAKU) pada tahun 1967-1968. Peristiwa ini merupakan langkah sistematis rezim orde baru terhadap organisasi (dalam konteks ini orang Tionghoa) yang dianggap berafiliasi ke Partai Komunis Indonesia (PKI) dan melibatkan masyarakat Dayak dalam pelaksanaannya di lapangan.
-          Konflik yang berujung pada kekerasan etnis (Dayak dengan Madura) di Sanggau Ledo, Kalimantan Barat pada tahun 1997, dan Dayak-Melayu dengan Madura di Sambas, Kalimantan Barat tahun 1999. Konflik ini menunjukkan rapuhnya rajutan sosial dalam masyarakat. Kebijakan pemerintah yang tidak adil juga menyalakan bara disintegrasi kehidupan sosial.
-          Konflik yang berujung kekerasan etnis (Dayak dengan Madura) di Sampit, Kalimantan Tengah pada tahun 2001. Kekerasan ini dapat dilihat dari kebijakan pemerintah dalam bidang ekonomi-politik dan sosial-budaya yang mengakibatkan kurang harmoninya kehidupan masyarakat.

Konsensus, Perjanjian dan Deklarasi
-          Pada tahun 1894 diadakan Rapat Damai Tumbang Anoi di Tumbang Anoi, Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Rapat di hadiri oleh 152 kepala suku yang berlangsung pada 22 Mei sampai 24 Juni 1894 (Dayak Tempo Doeloe, 2017). Selain kepala suku juga hadir pejabat kolonial Belanda wilayah administrasi Borneo, utusan kerajaan Banjar dan kesultanan Kalbar. Isinya ada beberapa poin, yaitu (1). Menghentikan permusuhan antar suku Dayak (saling kayau, saling bunuh, saling motong kepala); (2). Menghentikan sistem Jipen (hamba, budak belian); (3). Mengantikan wujud Jipen dari manusia menjadi barang seperti tempajan tajau; (4). Menyeragamkan dan hukum adat bersifat umum; (5). Kalau ada yang membunuh suku lain harus membayar Sahiring (sanksi adat); (6). Menata dan memberlakukan adat istiadat secara khusus di masing-masing daerah sesuai dengan kebiasaan dan tata hidup yang dianggap baik.
-          Pada 17 Desember 1946, atas nama 142 suku Dayak, Tjilik Riwut (usia 28 tahun) mengangkat sumpah setia kepada pemerintah Republik Indonesia di hadapan Presiden Sukarno di Gedung Agung Yogyakarta
-          Pada tahun 1992 diadakan Ekspo Budaya Dayak di Pontianak untuk menyepakati kata “Dayak” untuk menyebut penduduk asli pulau kalimantan baik dalam pengucapan maupun tulisan.
-          Pada 3-6 Juni 2017 diadakan Kongres Internasional 1 Kebudayaan Dayak di Bengkayang yang melahirkan Deklarasi Kebudayaan Bengkayang, yaitu (1). Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kebudayaan Dayak berlandaskan asas kemanusiaan; (2). Mengakui satu Dayak yang tidak terpisahkan oleh batas-batas; (3). Menghadirkan kebudayaan Dayak dalam kehidupan sehari-hari; (4). Mengakui setiap orang yang menikah dengan Dayak menjadi Dayak; (5). Memanfaatkan sumber daya alam, air, tanah, dan udara secara arif dan bijaksana; (6). Tanggap dan secara berkelanjutan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemakmuran dan kesejahteraan umat manusia; (7). Berbahasa Dayak sekurang-kurangnya bahasa ibu.
-          Pada 26-27 Juli 2017 diadakan Kongres Dayak Internasional 1 di Pontianak yang melahirkan 7 protokol, yaitu (1). Makna dan dimensi dari agama, tujuan dan kebahagiaan hakiki dari bangsa Dayak; (2). Dimensi nilai-nilai kepercayaan dan norma-norma dalam kehidupan bangsa Dayak; (3). Keterlibatan aktif bangsa Dayak dalam menciptakan kebersamaan, toleransi dan perdamaian dunia; (4). Pentingnya bangsa Dayak dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa (nasionalisme); (5). Pentingnya bangsa Dayak mengembangkan budaya dan kebudayaan Dayak keseluruh dunia; (6). Komitmen bangsa Dayak dalam mendukung pemerintahan yang kuat dan berwibawa dan melindungi rakyatnya; (7). Diaspora Dayak harus menjadi jembatan emas untuk membangun kekuatan.
Catatan ini hanya merekam peristiwa-peristiwa besar yang dialami oleh masyarakat Dayak dan mengantisipasi peristiwa destruktif terulang kembali. Harapannya para anak muda Dayak sendiri tertarik untuk belajar sejarah masyarakatnya dan menggali kekayaan nilai budaya serta adat istiadatnya. Karena dengan belajar tentang asal usul dan sejarah para leluhur, kita sedang mengkonstruksi peradaban yang dilandaskan pada nilai hidup dan penghormatan terhadap manusia serta alam.